√ Perwilayahan Formal Dan Fungsional 2

Versi bahan oleh Eni A dan Tri H


Di atas kau sudah membahas wilayah formal dan wilayah fungsional. Tentu kau bisa membedakan keduanya dengan mudah. Pada subbab ini kau akan membahas perwilayahan formal dan perwilayahan fungsional. Apakah perbedaan antara wilayah dan perwilayahan? Serta, apakah yang dimaksud perwilayahan? Secara sederhana, wilayah mengatakan bendanya, sedang perwilayahan mengatakan prosesnya. Perwilayahan merupakan proses penentuan suatu wilayah dengan menarik batas berdasarkan variabel atau criteria tertentu baik secara kuantitas maupun kualitas. Penentuan bisa memakai satu variabel (kriteria sederhana), contohnya unsure pendapatan per kapita penduduk, atau memakai banyak variable (kriteria kompleks).

Dalam pembangunan wilayah atau yang berkaitan dengan pengembangan wilayah dibutuhkan suatu perencanaan yang matang, sehingga terdapat kesesuaian antara wilayah dengan pemanfaatannya. Misalnya, jumlah sarana transportasi bus kota perlu ditambah untuk melayani penduduk yang semakin padat jawaban angka pertumbuhan penduduk dan jumlah penduduk yang masuk lebih tinggi. Salah satu metode yang dipakai ialah metode nilai bobot indeks.



1. Perwilayahan Formal

Penentuan suatu wilayah menjadi perwilayahan formal sanggup dilakukan dengan metode nilai bobot indeks. Perwilayahan formal bertujuan untuk mengetahui bagian-bagian wilayah yang bersifat seragam atau homogen sesuai dengan variabel atau kriteria yang digunakan.

Berdasarkan beberapa variabel atau kriteria maka penarikan batas wilayah sanggup dilakukan dengan metode nilai bobot indeks. Misalnya, variabel yang dipakai untuk memilih wilayah homogen secara sosial ekonomi ialah pendapatan per kapita dan tingkat pertumbuhan penduduk. Contoh penentuan nilai bobot indeks kedua variabel tersebut di tujuh wilayah kota X dilakukan sebagai berikut.

Tabel 7.1 Pendapatan per Kapita dan Tingkat Pertumbuhan Penduduk Kota X




Nilai indeks setiap wilayah dihitung dengan ketentuan sebagai berikut. Pendapatan per kapita:




Tabel 7.2 Nilai Bobot Indeks Wilayah A–G




Perwilayahan A–G kota X berdasarkan tabel 7.2 sanggup dibedakan menjadi tiga wilayah homogen berdasarkan kondisi sosial ekonomi (standar deviasi = 0,5), yaitu:
Wilayah I <2,9 (E).
Wilayah II 2,9–3,9 (B, C, F).
Wilayah III > 3,9 (A, D, G).




2. Perwilayahan Fungsional

Perwilayahan fungsional ditentukan dengan adanya hubungan dari titik-titik pertumbuhan pada unit-unit wilayah dengan titik sentra pertumbuhan. Jadi, perwilayahan fungsional lebih menitikberatkan adanya arus hubungan dengan titik pusat.

Penentuan perwilayahan fungsional umumnya memakai dua pendekatan analisis, yaitu analisis fatwa barang/orang dan analisis gravitasi. Analisis fatwa barang/orang menitikberatkan pada sesuatu yang dilakukan orang, sedang analisis gravitasi menitikberatkan pada suatu kemungkinan yang akan dilakukan orang berdasarkan pengamatan.

Analisis fatwa barang/orang memandang wilayah fungsional berdasarkan pada arah dan intensitas fatwa barang/orang antara titik sentra dan wilayah sekitarnya. Jangkauan dampak titik sentra terhadap wilayah sekitar hingga pada titik minimum arus aliran. Dengan demikian, dampak fatwa barang/orang berlangsung intensif di wilayah terdekat dengan titik sentra dan kurang intensif di wilayah yang jauh dari titik pusat.

Beberapa jenis fatwa barang/orang sanggup disebutkan sebagai berikut.
a. Bidang gosip : surat kabar, tabloid, surat, telepon, dan telegram.
b. Bidang sosial : arus derma dan kemanusiaan, pasien berobat, serta siswa sekolah.
c. Bidang ekonomi : arus penumpang angkutan bus, barang kebutuhan pokok, barang ekspor, dan orang yang pergi bekerja.
d. Bidang politik : arus pengungsi dan mencari suaka politik, serta arus pembelanjaan negara.

Pendekatan analisis fatwa barang/orang sanggup dilakukan secara sederhana dengan teori grafik. Contoh analisis fatwa barang/orang ialah arus angkutan penumpang yang memakai jalur bus umum di kota Y. Jalur bus angkutan umum yang ada mengatakan terjadinya hubungan sosial ekonomi antarwilayah. Contoh matriks jalur bus antarwilayah di kota Y sanggup kau lihat sebagai berikut.

Tabel 7.3 Contoh Matriks Metode Jalur Bus Umum Antarwilayah Kota Y





Coba kau simak matriks di atas. Manakah wilayah yang paling banyak dilayani oleh angkutan bus umum? Dengan gampang tentu kau menyebut wilayah W. Wilayah W dilayani angkutan bus umum dari aneka macam wilayah dan jumlah bus yang melayaninya paling banyak. Agar lebih jelas, kau sanggup menyimak jaringan hubungan fungsional jalur angkutan bus umum yang melayani wilayah T, U, V, W, X, Y, dan Z di kota Y pada gambar 7.3.

Dari gambar 7.3 mengatakan bahwa titik W merupakan sentra jaringan jalur angkutan bus umum dalam suatu perwilayahan fungsional kota Y. Perwilayahan fungsional biasanya merupakan wilayah luas dengan unitunit yang lebih kecil yang secara fungsional saling terkait. Wilayah ini sanggup diamati pada suatu kota, contohnya Jakarta. Wilayah Kota Jakarta dihubungkan oleh jalan lingkar potongan dalam (inner ring road) dan jalan lingkar potongan luar (outer ring road). Coba kau simak gambar 7.4. Tampak tempat pinggiran Kota Jakarta dihubungkan oleh jalan lingkar luar.

Sumber http://www.ssbelajar.net/

Berlangganan Informasi Terbaru:

0 Response to "√ Perwilayahan Formal Dan Fungsional 2"

Posting Komentar